Powered by Blogger.

Sunday, November 27, 2016

Apartemen Airbnb, Alternatif Menginap Saat Berlibur

Liburan adalah hal yang menyenangkan dan nagih buat keluarga kami, jadi kami selalu berusaha meluangkan dan merencanakan liburan setidaknya setahun sekali. Senang aja gitu dapat suasana baru dan bikin pikiran fresh lagi. Malah kalau saya pribadi, setelah pulang liburan jadi lebih rajin mengerjakan ini itu di rumah. Diantara perjalanan liburan kami, kebanyakan butuh waktu menginap. Kadang semalam, dua malam, atau bahkan seminggu. Pilihan menginap favorit saya dan Beni awalnya hanya hostel tipe dormitory karena murah, itu dulu waktu kami belum menikah. Tapi setelah menikah rasanya hostel kurang nyaman ya soalnya tidak private tidur di bunk bed rame-rame sama orang lain. Terus setelah punya anak kriteria pemilihan tempat menginap bertambah kompleks. Ingin ruangannya besar, ingin air hangat, ingin ada kettle, ingin ada kulkas, dapur, tempat bermain, bisa laundry, lokasi dekat mana-mana, transportasi dari dan ke penginapan dekat. Kadang sulit menemukan yang komplit seperti itu. Pasti ada hotel yang memenuhi semua kriteria, tapi.. seringnya out of budget, mahal. Maklum, kebiasaan dari dulu jadi budget traveler tidak bisa hilang. Sampai sekarang budget selalu jadi pertimbangan utama ketika jalan-jalan. Inginnya murah tapi nyaman jadinya gitu deh. Hehehe.

Nah, setelah beberapa kali browsing dan membandingkan sana sini, apartemen lah yang bisa memenuhi semua kriteria penginapan ideal saya dan budget saya. Pertama kali saya menyewa apartemen adalah waktu belum hamil dan puas rasanya tinggal di apartemen (bisa cek postingan ini). Dulu saya dapatnya di situs Cross Pollinate, cuma saya lupa url nya. Terakhir saya menyewa apartemen adalah saat ke Singapura kemarin, saya booking lewat situs Airbnb. Situs ini sedang ngetrend dan fiturnya banyak. Dalam situs ini, tidak hanya keseluruhan apartemen yang disewakan, tapi ada juga yang menyewakan kamar saja (fasilitas lain shared dengan pemilik rumah). Pilihannya banyak dan harganya variatif. Tinggal pintar-pintar kita mencari yang sesuai dengan kebutuhan.

Tuesday, November 8, 2016

5 Destinasi Hemat untuk Anak di Singapura

“Mau kemana aja?” tanya sahabat saya yang sekarang berdomisili di Singapura ketika kami berkunjung ke rumahnya. Jujur, kami ga tau. Kami tidak punya itinerary pasti untuk liburan kali ini. Pokoknya yang penting liburan, jauh dari Balikpapan supaya ganti suasana dan Beni tidak diingatkan sama kerjaan.

Saya sudah antisipasi kalau-kalau Emil tidak akan suka ikut melancong di Singapura selayaknya turis. Menyambangi tempat-tempat yang iconic seperti Orchard road, Merlion, dan Sentosa untuk berfoto sebagai bukti pernah ke Singapura. Dan memang benar, dia tidak suka ketika kami ajak hangout ke Orchard road dan hanya menangis di stroller. Juga tidak mau diajak lihat patung singa yang menyemburkan air dan berfoto di depannya. Jadilah kami tidak punya foto yang proper di depan patung singa sebagai bukti otentik melancong ke Singapura akibat Emil maunya nyebur ke sungai. Langsung saja kami bawa pergi dari sana.

Jadi, saya dan Beni merencanakan untuk jalan-jalan santai dan memperbanyak kunjungan ke tempat terbuka yang luas supaya Emil bisa lari-lari dan merasa bebas. Kasian dia tiap hari dikurung di rumah kami yang mungil. LOL. Ternyata, di Singapura tidaklah sulit menemukan tempat bermain yang Emil senangi. Kriterianya yang penting outdoor, banyak pohon dan bunga, ada air, dan yang penting luas. Senangnya lagi, tempat-tempat bermain untuk anak-anak banyak yang gratisan. Ini sih mamanya ya yang senang, hemat bo! Hihihi. Nah, buat yang mau jalan-jalan hemat bersama anak, bisa coba berkunjung ke tempat-tempat berikut.

Saturday, October 29, 2016

Ke Legoland Malaysia dari Singapura

Sebuah figur yang disusun dari ribuan lego bricks.
Legoland Malaysia berlokasi di kota Johor Bahru, sekitar 4 jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur atau 2-3 jam dari Singapura. Dalam liburan kali ini sebenarnya tujuan utama kami adalah Singapura. Tapi sayangnya di Singapura tidak ada taman hiburan yang cukup baby friendly. Universal Studio, misalnya, penuh dengan arena yang lebih cocok untuk orang dewasa. Terpilihlah Legoland karena secara geografis di peta tidak terlalu jauh dari Singapura. Kami pun memilih untuk melakukan day trip karena kota Johor sendiri menurut info tidak aman, sulit transportasi, dan hotel jauh dari tempat-tempat makan.

Untuk mencapai Legoland, ada beberapa cara 1) naik bus khusus Singapura-Legoland yang dioperasikan oleh WTS travel (kerjasama resmi dengan Legoland) atau Superior travel; 2) naik taksi khusus yang punya ijin mengemudi di 2 negara, Singapura dan Malaysia; 3) sewa mobil; 4) Naik bus umum, Causeway dari Jurong East. Kami memilih opsi 1 dengan pertimbangan ga ribet karena point to point, dan lebih hemat dibandingkan opsi 2 dan 3. Kami juga memilih provider Superior travel karena titik berkumpulnya lebih dekat dengan tempat kami menginap. Biaya perjalanan dari Singapura ke Legoland dengan bus ini adalah SGD 11 per perjalanan. Oh iya, pemesanan hanya bisa dilakukan secara online dan bukti pemesanan harus dicetak sendiri.

Di hari keberangkatan, kami berkumpul di depan McDonald MRT Lavender exit B sebelum pukul 8.30 am. Saat booking tiket memang sudah diwanti-wanti agar tidak terlambat dan tidak salah tempat menunggu. Di depan McDonald memang ada bus station tapi titik berkumpulnya adalah di depan pintu McDonald, jadi kalau kebetulan teman-teman mau ke Legoland menggunakan Superior travel, ikuti info ini. Pukul 8.30 am akan datang seseorang dengan kaos hitam bertuliskan huruf S besar, membawa tas keci, memegang kertas dan pulpen. Dia adalah orang dari Superior travel yang akan menghampiri dan melakukan proses verifikasi sambil memberikan stiker. Selanjutnya, kami digiring ke tempat pemberhentian bus sebenarnya, di belakang gedung mall. Meskipun jadwal keberangkatan adalah pukul 9 pagi, tapi aktualnya terlambat 30 menit.

Karena Legoland berlokasi di negara yang berbeda, tentu kita perlu melewati imigrasi. Setelah satu jam perjalanan dengan bus, kami tiba di Tuas, nama daerah perbatasan di Singapura. Antrian kendaraan yang memasuki area imigrasi cukup panjang begitu pula antrian orang di dalamnya. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam dari waktu sampai di Tuas hingga naik bus lagi untuk menuju perbatasan Malaysia. Proses imigrasi di Malaysia tidak memakan waktu lama, mungkin sekitar 15 menit sudah selesai dan bisa naik bus kembali.

Jika sudah melewati imigrasi Malaysia, kita tinggal menikmati perjalanan selama 20 menit saja hingga tiba di Legoland! Yeay!

Untuk pulangnya, sama saja dengan pergi kalau sudah booking tiket pulang sebelumnya secara online. Tinggal berkumpul di tempat bus menurunkan penumpang saat kedatangan. Lalu “check in” dan duduk manis di bus mengikuti prosedur yang sama persis dengan sebelumnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah berkumpul jauh sebelum waktu keberangkatan. Jika dinyatakan 17.30 di tiket, maka jangan datang dekat-dekat 17.30 karena walaupun saat berangkat dari Singapore sempat telat 30 menit, pulang dari Legoland tepat waktu, teng! Jangan sampai mengalami nasib seperti kami, telat satu menit dan kami pun melihat bus meninggalkan kami di depan mata. Sudah lambai-lambai tapi tidak juga berhenti. Lalu terdamparlah kami di halte bus yang kosong dan gersang.

Bagaimana jika mengalami hal seperti itu?

Tenang, masih bisa balik ke Singapura kok asalkan belum terlalu malam. Kami masih bisa “ngeteng” naik bus ke JB Sentral, lalu dari sana cari bus ke Singapura (berkat info dari petugas Legoland). Tapi jangan kecele nunggu di halte bus yang tadi. Bus umum lokasinya terletang di ujung mall. Jadi dari gerbang Legoland jalan kaki aja lurus sampai ujung. Setelah bertanya ke orang yang juga mau ke Singapura katanya bisa naik bus Causeway yang berwarna kuning, langsung menuju Jurong East. Kami pun memilih ikutan naik bus Causeway supaya tidak bingung gonta ganti bus. Biayanya SGD 5 dolar per orang dan kami diberi receipt oleh supir bus yang harus selelu dipegang, jangan dibuang! Karena ketika selesai melewati imigrasi, dibutuhkan untuk naik bus lagi. Bus Causeway ada banyak dan kita tinggal naik mana saja yang ada saat kita keluar imigrasi. Jadi tidak perlu tunggu-tungguan.

Jika seperti kami, membawa balita yang aktif dan tidak bisa diam, proses imigrasi keluar Singapura dan/atau masuk Malaysia menjadi suatu hal yang melelahkan. Baru antri satu menit lalu Emil rewel luar biasa. Dia ingin main lari-lari, menyelinap di antara kaki orang-orang, dan mengeksplorasi ruangan. Tentu saja itu tidak boleh dilakukan jadi saya gendong Emil dan berusaha menenangkan, mengalihkan perhatian, tapi gagal. Alhasil Emil nangis meraung-raung dan berontak di gendongan saya. Untungnya kami bertemu orang-orang yang baik, ikut menenangkan Emil. Bahkan Emil dikasih coklat oleh orang timur tengah, langsung diam dan minta makan coklat. Hebatnya Emil bilang thank you. Waah mama bangga. Hehe.

What a Day! @Legoland Malaysia


Satu-satunya ungkapan yang bisa saya katakan untuk pengalaman ini. Kami sangat excited di hari perjalanan kami ke Legoland Malaysia. Sejak malam sudah siap-siap tidur cepat dan bangun lebih awal dari biasanya. Mandi, makan, siap-siap semuanya tepat waktu. Bahkan Emil pun bisa mengikuti jadwal tanpa ribut ini itu. Aah, it’s gonna be a good day!

We arrived at Legoland! Panas terik luar biasa.
Pukul 7.50 pagi kami sudah keluar dari apartemen dan menuju halte bus yang dilewati bus nomor 33 menuju MRT Lavender. Disana adalah tempat berkumpul semua penumpang ke Legolanddari Singapura. Sambil menunggu kami berkeliling mall yang secara umum adalah kumpulan food stall. Kondisinya ramai oleh orang-orang yang akan menuju tempat kerja atau sekolah. Akhirnya bus pun tiba dan kami berangkat pukul 9.30 am. Perjalanan memakan waktu sekitar 2-3 jam yang kebanyakan dihabiskan untuk antri di imigrasi (sekitar 1 jam).

Suasana Legoland pada hari biasa. sepii :)
Akhirnya kami pun tiba di Legoland Malaysia pukul 11.30 am. Yeay! Sedikit info bahwa Legoland Malaysia ini menjadi tujuan liburan orang-orang SIngapura dan Malaysia di akhir pekan. Jadi, kalau berlibur kesini lebih baik dilakukan pada hari kerja jika tidak ingin mengalami antrian panjang untuk memasuki arena permainan. Di akhir pekan jumlah pengunjung rata-rata mencapai 20.000 orang sementara di hari biasa rata-ratanya hanya 4500 orang. Jumlah yang signifikan, bukan? Kemarin kami pergi di hari Rabu, dan sepi. Serasa Legoland milik sendiri. Kami tidak pernah mengantri untuk memasuki arena apapun. Tidak juga harus berebut untuk mengambil foto. Pokoknya kami merasa nyaman berkeliling Legoland tanpa harus terburu-buru.

Begitu sampai, kami langsung ke area Lego City seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Di area ini Emil bisa naik perahu, kereta, dan main di playground. Jika berkunjung ke Legoland dengan anak-anak, kita harus memperhatikan batasan umur dan tinggi badan yang ditetapkan di setiap arena. Legoland sangat strict mengenai hal ini. Kurang satu cm saja tidak boleh main, kurang umur juga tidak boleh main. Jadi, supaya tidak membuang waktu lebih baik dari rumah sudah mempelajari peta area Legoland dan memilih arena mana saja yang bisa dimainkan anak kita. Dari peta yang ada di web resmi Legoland semua sudah tercantum jelas arena permainan besserta batasannya dan area-area yang ada beserta jalurnya. Terutama jika pergi di akhir pekan, ini akan menghemat waktu. Kan kesal kalau sudah antri berjam-jam tapi ternyata tidak bisa memasuki arena karena kurang umur atau kurang tinggi badan. Arena lain yang arenanya lumayan banyak untuk bisa dimasuki oleh Emil antara lain Miniland, Imagination, dan Lego Technic. Emil pun senang sekali sampai lari-lari dan teriak-teriak. Kebahagiaan orang tua adalah ketika melihat anaknya bahagia :)
Boating School, Emil awalnya tegang tapi setelah itu ga mau udahan.
Rasanya hari itu semuanya berjalan lancar. Cuaca panas yang perlu disyukuri karena saat hujan katanya parah sekali. Memang di Legoland panasnya terik luar biasa, dan tidak ada pohon yang bisa dipakai berteduh. Jadi, siap-siap gosong deh! Ketika berjalan-jalan di Legoland, sebaiknya juga berhati-hati karena kami tiba-tiba bertemu ular di depan sebuah arena. Beni dan Emil yang jalan agak jauh di depan saya tiba-tiba berbalik dan melambaikan tangan. Saya kurang mengerti maksudnya dan tidak menghiraukan sambil terus jalan mendekat. Tiba-tiba saya melihat gerakan cepat melintas di depan saya. ULAAAR!!! Untunglah ular itu tidak melintas ke arah saya. Dia keluar dari semak-semak di samping Beni dan untungnya lagi dilihat oleh dua orang staf Legoland yang sedang memegang gagang kain pel. Spontan mereka mengejar dan memukuli ular tersebut dengan gagang kain pel sampai mati. Kalau saya cepat-cepat jalan menjauh dari sekitaran lokasi munculnya ular, sementara Beni yang fobia ular malah diam dan nontonin bikin saya sebal. Bagaimana bisa seorang yang fobia malah asik nontonin bukannya menyelamatkan diri. Rrrr…

Sejak kejadian ular, rasanya kok kesempurnaan hari kami jadi memudar. Saat mau pulang, kami memesan makanan take away agar tidak perlu cari-cari makan lagi sesampainya di Singapura. Kami juga takut Emil sudah lapar ketika di bus dalam perjalanan pulang. Bus kami akan berangkat pukul 17.30, sementara kami baru memesan pada pukul 17.15 yang sangat mepet. Asumsinya, jika semua langsung disajikan maka kami bisa mengejar bus. Tapi ternyata makanan Emil butuh waktu 5 menit untuk disajikan kata mbaknya yang baru bilang setelah saya selesai bayar dan kenyataannya lebih lama. Tinggal 5 menit sampai bus berangkat dan kami baru mau keluar Legoland. Kami lari-lari menuju halte bus dengan segambreng barang bawaan. Di beberapa puluh meter sebelum halte kami melihat bus biru itu, dan dia tiba-tiba berjalan serta meninggalkan kami. Beni yang sudah beberapa meter di depan saya melambai-lambai dan lari duluan ke halte. Tapi ternyata semua sudah terlambat. Kami ditinggalkan bus! Stress ga sih? Di halte ada seorang ibu yang merupakan pegawai dari WTS travel, sebuah provider perjalanan yang menyediakan bus Legoland-Singapura yang juga bekerja sama dengan Legoland Malaysia. Bus WTS akan menjemput penumpang pada pukul 18.45 dan kami menanyakan kemungkinan untuk ikut naik. Tapi dijawab ketus oleh di ibu kalau dia tidak jual tiket dan kami harus pesan online 3 hari sebelumnya. Jutek banget deh si ibu itu.

Build and test, kita bisa bermain lego di setiap sudut taman bermain.
Kami pun kembali ke pintu masuk Legoland dan bertanya pada staf disana. Surprisingly staf Legoland sangat sigap membantu kami mencari alternative pulang ke Singapura. Saat Beni menceritakan kejadian yang menimpa kami, dia langsung mengambil selembar jadwal bus dari dalam kantornya dan menjelaskan kemungkinan yang bisa kami ambil. Dia menyarankan kami untuk naik bus ke JB Sentral dan mencari bus ke Singapura disana. Kami pun berterima kasih dan menuju tempat yang akan dilewati bus. Di depan tempat menunggu ternyata ada kotak informasi juga. Petugas informasi memberitahu hal yang sama dan juga menginfokan biaya bus yang harus dibayar. MYR 10 untuk dua orang, sementara uang kami hanya tinggal MYR 6. Maka terpaksa kami menukarkan uang pecahan terkecil kami sebesar SGD 50 di money changer, which is berubah menjadi MYR 144. Terlalu banyak :(

Lumayan lama kami menunggu tapi tidak kunjung datang bus dengan tujuan JB Sentral. Lalu datanglah bus berwarna kuning bertuliskan Causeway dan semua orang yang menunggu langsung antri naik. Beni bertanya pada salah seorang calon penumpang dan diberitahu bahwa bus ini langsung ke Singapura. Kami pun langsung ikutan naik. Sialnya, ternyata bus ini meminta bayaran dalan mata uang SIngapura, SGD 10 untuk dua orang. Duh, rugi kurs deh gara-gara menukar uang ke money changer.

Di imigrasi masuk Singapura, antrian panjang sekali dan Emil rewel. Dia tidak berhenti meraung-raung sama sekali selama kami mengantri. Sampai satu orang di depan saya harus rela di skip karena petugas sepertinya tidak tahan dengar tangisan Emil. Anehnya begitu di depan loket, Emil langsung diam. Semua mata tertuju pada kami.

Lego Miniland, di depan miniatur Singapore Flyer yang dibuat dari ribuan balok lego.
Alhamdulillah, akhirnya kami pun sudah masuk Singapura setelah cemas karena ditinggal bus. Meskipun di Jurong East, tempat pemberhentian bus, kami ketinggalan bus lagi yang menuju arah apartemen tapi akhirnya semua terlewati. Butuh waktu 2 jam dari Jurong East ke apartemen kami. Cukup repot juga karena kami harus 2x ganti bus dengan barang bawaan segambreng. Setelah sampai apartemen baru kepikiran, kenapa tadi kami tidak naik taksi saja saat di Jurong East. Tidak ribet dan lebih cepat. Aaah~

Thursday, August 11, 2016

Jangan Lupa Oleh-Oleh Ya!

Begitu kata orang-orang setiap tahu kalau kami mau pergi jalan-jalan. Ah, kata-kata ini tidak asing dan sepertinya lazim diucapkan oleh orang Indonesia. Merupakan suatu tradisi memberikan buah tangan kepada keluarga, teman, tetangga (banyak ya :p) ketika kita pulang dari pelancongan. Entah souvenir ataupun makanan khas daerah yang dikunjungi. Oleh-oleh ini hukumnya sukarela tapi kalau tidak dilakukan rasanya agak berdosa, ga enak gitu.
candy, anyone?
At least for me, ucapan “Oleh-oleh ya!” atau “Titip beli X ya!” menjadi sebuah amanah yang sebisa mungkin dipenuhi walaupun kadang diucapkan dengan iseng. Saya yang terlalu pemikir ini seringkali merasa tidak enak dan overthink, saya takut si penitip kecewa dan menganggap saya pelit atau lainnya kalau tidak bisa memberikan sesuatu. Padahal bukan begitu maksudnya.

Kalau si pelancong pergi dengan konsep budget travelling, oleh-oleh ini jadi prioritas ke sekian. Bagaimana mungkin membawa oleh-oleh untuk semua kenalan dan/atau orang yang  mengetahui kepergiannya (which is bisa lebih dari 20 orang) kalau pelancong hanya berbekal satu buah ransel, uang saku terbatas, pesawat tanpa bagasi. Ditambah dengan yang namanya budget traveling artinya adalah menekan pengeluaran seminim mungkin. Sementara yang namanya oleh-oleh untuk sekampung mungkin bisa menghabiskan setengah dari biaya selama melancong, even just small item souvenirs (cie.. pengalaman. Haha)

Kalau si pelancong pergi dalam waktu yang sempit dan “kejar tayang”, mencari barang titipan ataupun berbelanja oleh-oleh merupakan kegiatan yang memakan waktu. Mungkin saja lokasi penjualan oleh-oleh tidak mudah dijangkau dari lokasi yang direncanakan. Kalau barang titipan, belum tentu juga ketemu di satu tempat yang didatangi. Butuh effort lebih untuk mencari barang yang dimaksud, dari toko ke toko yang tentunya membutuhkan banyak waktu. Ehem.

Entah kenapa setiap pulang melancong koper menjadi lebih berat dibandingkan saat berangkat walaupun dengan jumlah barang yang sama (tanpa oleh-oleh). Kadang ini juga jadi satu pertimbangan untuk tidak membawa oleh-oleh atau hanya sedikit oleh-oleh di dalam bagasi ketika pulang. Jangan sampai membayar biaya bagasi tambahan yang harganya lebih besar daripada nilai oleh-oleh dalam koper. Ekonomis cyiin

Pelancong juga manusia, sama-sama punya tangan dua. Kadang sudah kerepotan dengan jumlah koper-koper yang dibawanya (apalagi kalau ditambah gendong anak). Menambah beberapa kardus berisi oleh-oleh bisa sangat merepotkan. Mungkin saja kardusnya tertinggal karena lupa tidak terbawa.

Sekilas gambaran kondisi yang mungkin dialami oleh para pelancong. Kita bepergian dengan style yang berbeda. Menurut saya pribadi, alangkah lebih bijak jika tidak asal mengucapkan “Jangan lupa oleh-oleh ya!” ketika seseorang yang kita kenal akan melancong. Juga akan mengurangi perasaan bersalah jika ketika pulang tidak ditagih, “mana oleh-olehnya?”. Akan lebih baik jika kita memberikan kata-kata yang positif, misalnya “Have fun ya!” atau “Hati-hati di jalan!” atau “Udah sana liburan aja, kerjaan kamu saya handle sementara” dan ungkapan positif lainnya.

Jadi, bukan karena teman kita itu pelit, tidak mementingkan pertemanan, dan sebagainya. Tapi tapi tapi begitulah. Hanya mereka yang tau kondisinya. Jadi, maaf ya teman-teman kalau misalnya ga kebagian oleh-oleh.. :D

Saturday, July 30, 2016

Bandung, Dulu dan Sekarang

Lebaran lalu, yang mana sudah terlewat 3 minggu lamanya, adalah official mudik pertama Emil. Sebelumnya kami menghabiskan Lebaran di Balikpapan dan jalan-jalan ke Samarinda karena Beni tidak dapat cuti. Tahun ini akhirnya bisa cuti dan ikutan arus mudik walaupun baru berangkat H+1 menuju Bandung.

Malam hari setelah kami landing di kota kelahiran Emil, kami memutuskan untuk sedikit berkeliling di pusat kota. Sejak Kang Emil memegang amanah Walikota Bandung, rasanya begitu banyak perubahan yang terjadi dibandingkan terakhir kali kami meninggalkan Bandung. Tujuan pertama kami adalah pertokoan di Jalan Riau sekalian membeli beberapa barang yang dititip Neneknya Emil. Begitu masuk ke perempatan Jalan Merdeka di malam hari, Emil (dan mama papanya) terpana karena meriah banget suasananya. Lampu-lampu gedung, terangnya billboard berupa tv raksasa, dan ramainya lalu lalang kendaraan sudah lama hilang dari pandangan kami yang terbiasa dengan jalanan sepi lengang remang-remangnya Balikpapan.

Ketika kembali menuju rumah, kami juga menyusuri kawasan Jalan Asia Afrika, salah satu kawasan heritage di Bandung. Disini berdiri Gedung Merdeka, tempat diselenggarakannya konferensi Asia Afrika yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Oh iya, kilometer 0 nya Bandung juga terletak di kawasan ini, sebelah Hotel Panghegar tepatnya. Waktu jaman kuliah dulu saya dan Beni sering melewati jalan ini untuk pulang ke rumah masing-masing. Satu perempatan sebelum Jalan Asia Afrika biasanya kami berpisah karena harus naik angkot yang berbeda. Seingat saya, dulu disini sepi remang-remang. Kalau sudah di atas jam 9 malah agak takut juga karena sering ketemu orang mabuk di trotoir ataupun di angkot yang akan dinaiki. Jarang sekali orang lalu lalang. Tapi kalau di sebrang hotel Savoy Homman lumayan ramai dengan pedagang kaki lima. Saya dan Beni juga suka jajan disini, nasi goreng sebrang hotel Savoy Homman adalah favorit kami. Sekarang jalan Asia Afrika sudah jauh berbeda, pedagang kaki lima tidak lagi berjejer di pinggir jalan karena sudah direlokasi ke tempat lain. Sudah tidak ada lagi deh jalanan sepi, trotoir lengang di malam hari. Kami saja terjebak padatnya jalanan dan melihat kreamaian di kanan kiri jalan. Kawasan ini sudah jadi tempat untuk nongkrong dan ber-selfie ria. Orang-orang yang mencari recehan dengan memakai kostum unik seperti robot menambah kemeriahan suasana. Kalau kesini sepertinya wajib foto di depan tulisan kekiniannya kota Bandung,

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi” –Pidi Baiq

yang tidak sempat saya foto karena sedang gendong Emil yang bobo sementara Beni menyetir.
Salah satu sudut Taman Balai Kota
Terima kasih Kang Emil, taman-taman di Bandung jadi lebih terawat dan menyenangkan untuk bermain dengan anak. Saya dan Beni sebenarnya senang jalan-jalan ke taman sejak jaman pacaran dulu, tapi hanya sekedar jalan kaki dan lewat saja karena tamannya tidak terurus, tidak enak untuk duduk-duduk ngobrol. Taman Balai Kota adalah satu-satunya yang pernah kami masuki untuk duduk dan mengobrol, itupun hanya sekali. Kemarin kami kembali ke taman Balai Kota Bandung, karena ketika melewati jalan Merdeka sudah hampir masuk waktu sholat Jumat. Beni pun sholat di masjid sebrang Balai Kota sementara saya, Emil, dan neneknya Emil menunggu di taman. Kondisi taman saat ini indah sekali. Kolam patung badak yang dulu kusam banyak sampah sekarang bersih dan punya air mancur. Tentu Emil senang sekali lihat air sampai mau nyebur ke kolam. Di taman ini ada tempat untuk menyematkan Gembok Cinta, seperti di Pont de Arts Paris atau Namsan Tower Seoul. Ada juga open air gym seperti yang pernah kami temukan di Lumphini Park Bangkok (meski beberapa alat kondisinya sudah agak rusak).    
Suasana bermain air di Sungai
Taman Balai Kota terletak di samping sungai Cikapayang. Dulu sungai ini warnanya coklat banyak sampah dan agak berbau. Saya dan Beni memang sering lewat jalan ini entah pulang kuliah atau ketika jalan-jalan di akhir pekan. Kok tahu kotor dan bau? Ya karena kami kalau pulang kuliah kadang jalan kaki sampai tempat berpisah, kalau di kampus lagi tidak bisa bareng waktu ngobrolnya dialihkan sambil jalan kaki. Hehehe. Katanya sih setelah Kang Emil perjalanan ke Seoul, terinspirasi sama sungai Cheonggyecheon, sungai buatan yang bisa dipakai main air (baca di artikel mana gitu, saya lupa). Nah, sekarang Kang Emil sudah merealisasikan sungai Cikapayang yang bisa dipakai main air dan airnya bersih. Trotoir di samping sungai desainnya meliuk mirip sungai Cheonggyechon yang saya lihat gambarnya di internet dan KDrama, saya belum pernah ke Seoul soalnya. Ketika kesini banyak juga keluarga yang piknik kecil-kecilan di pinggir sungai, anak-anak main air dan keluarga lainnya botram dengan makanan yang mereka bawa atau jajan cuanki. Emil si pecinta air langsung tidak bisa dikendalikan waktu lihat air dan anak-anak yang main air. Otomatis buka sepatu dan minta masuk. Neneknya ga tega akhirnya Emil dibukain celana dan ditemenin masuk ke air. Senangnya bukan main. Hanya di Bandung, orang kota juga bisa main di sungai. Saya bahagia lihat Emil luar biasa ceria, sambil makan tahu gejrot di pinggir sungai. Hehehe.
Seporsi Tahu Gejrot
“Bandung sekarang macet banget” begitu kata beberapa teman yang masih berdomisili di Bandung. Jujur saja sejak merantau, kata-kata inilah yang bikin saya dan Beni malas keluar rumah kalau pulang ke Bandung. Kalau akhir pekan sudah pasti macet dari dulu, ditambah sekarang banyak banget wisatawan yang berlibur ke Bandung jadi tidak terbayang macetnya seperti apa. Tapi sebetulnya setelah kami memaksakan mencoba keluar rumah, jalanan rasanya wajar-wajar saja. Memang ada beberapa jalan yang agak padat tapi masih bisa jalan pelan. Mungkin di dalam kota tidak terlalu terasa macetnya, kalau ke Lembang sih jangan ditanya ya, jaman saya SD aja udah macet kalau pulang apalagi sekarang. Hipotesis saya dan Beni, sekarang di Bandung tempat wisata dan restoran sudah tersebar di seluruh sudut bandung jadi macetnya juga menyebar. Beberapa tahun lalu wisatawan hanya terpusat di Jalan Riau, Merdeka, Dago, dan sekitarnya. Malah menurut kami, sekarang lebih lengang dibandingkan saat lulus kuliah dulu (baru 5 tahun lalu kok. Oops!)

Bandung adalah comfort zone saya sejak dulu. Bagaimana tidak, dari lahir hingga kuliah saya tidak pernah meninggalkan bandung (selain untuk berlibur). Tidak ada kota senyaman kota Bandung. Sekarang, saya makin nyaman dengan Bandung. Perubahan-perubahan yang terjadi di kota kelahiran saya dan Emil sangat positif sepanjang yang saya rasakan. Di Bandung, saya lihat Emil sangat bahagia, jiwanya bebas. Ini adalah kebahagian ultimate buat seorang Ibu. Ternyata lihat anak senang aja bahagianya bukan main. Walaupun begitu, kami harus move on, kami punya kehidupan di kota lain dan tugas kami menciptakan lingkungan yang senyaman mungkin untuk tumbuh kembang Emil meski sarananya tidak selengkap Bandung. Saya ingin melihat Emil selalu bahagia seperti ketika di Bandung.


Aaah… Bandung memang loveable, ngangenin deh..

Thursday, June 2, 2016

Wisata Malam : Batu Night Spectacular (BNS)


Pada dasarnya kota Batu di malam hari itu indah. Banyak lampu, lampion, ditambah udara yang adem jadi bikin suasana dramatis (cie.. hahaha). Menurut review blog perjalanan lainnya, kalau malam bagusnya ke alun-alun atau Batu Night Spectacular. Kami sempat melewati Alun-Alun Batu sepulang dari makan malam, memang bagus kelihatannya. Lampion dan lampu-lampu berwarna warni ditambah bianglala memeriahkan suasana. Cocok lah untuk selfie tempat nongkrong muda mudi.

Malam terakhir kami di kota Batu kami sempatkan untuk mengunjungi Batu Night Spectacular (BNS), tempat berkumpulnya seluruh wisatawan di malam hari. Di parkiran berjejer bus-bus pariwisata dan mobil-mobil. Pokoknya tempat ini selalu ramai.
Di BNS terdapat berbagai macam arena permainan, bisa dibilang mirip Dufan mini yang beroperasi di malam hari. Arena-arena permainan yang ada di BNS saya kategorikan tidak baby friendly karena banyak yang cukup menantang adrenalin seperti ontang-anting, piringan berputar yang melawan gravitasi, rumah hantu, go-kart, dan lainnya. Satu-satunya yang lumayan bisa dinaiki yaitu komedi putar tapi kami tidak ajak Emil naik permainan apapun malam itu.
Salah satu permainan di BNS
Harga tiket masuk BNS yang kami bayarkan sebesar Rp 30.000 per orang dan anak dengan tinggi di bawah 85 cm gratis. Kalau membeli tiket biasa seperti kami, untuk naik arena permainan harus membayar lagi sesuai harga yang ditetapkan di tiap-tiap arena. Jika memang ingin bermain di BNS, lebih baik membeli tiket terusan sebesar Rp 100.000 per orang.
Foto seadanya bareng bayi bobok
Saya, Beni, dan Emil akhirnya memilih untuk berkeliling taman lampion yang terletak di dalam BNS. Taman lampion merupakan salah satu ikon yang sangat merepresentasikan BNS. Untuk masuk ke taman lampion, kami harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 15.000 per orang. Seperti layaknya taman lampion yang ada dimana-mana, aktivitas yang bisa dilakukan hanya berfoto. Sementara kami tidak leluasa melakukan kegiatan per-fotoan karena Emil sangat cranky disitu akibat mau poop dan mengantuk. Jadi kami sibuk menenangkan Emil dengan menemani lihat air mancur. Bayi kami ini memang suka sekali dengan air, dia tidak peduli dengan lampu warna-warni. Akhirnya kami baru bisa foto-foto setelah Emil tidur. Maaf ya nak, fotomu jadi pose tidur semua. LOL
 

Blogger news

About