Powered by Blogger.

Thursday, August 11, 2016

Jangan Lupa Oleh-Oleh Ya!

Begitu kata orang-orang setiap tahu kalau kami mau pergi jalan-jalan. Ah, kata-kata ini tidak asing dan sepertinya lazim diucapkan oleh orang Indonesia. Merupakan suatu tradisi memberikan buah tangan kepada keluarga, teman, tetangga (banyak ya :p) ketika kita pulang dari pelancongan. Entah souvenir ataupun makanan khas daerah yang dikunjungi. Oleh-oleh ini hukumnya sukarela tapi kalau tidak dilakukan rasanya agak berdosa, ga enak gitu.
candy, anyone?
At least for me, ucapan “Oleh-oleh ya!” atau “Titip beli X ya!” menjadi sebuah amanah yang sebisa mungkin dipenuhi walaupun kadang diucapkan dengan iseng. Saya yang terlalu pemikir ini seringkali merasa tidak enak dan overthink, saya takut si penitip kecewa dan menganggap saya pelit atau lainnya kalau tidak bisa memberikan sesuatu. Padahal bukan begitu maksudnya.

Kalau si pelancong pergi dengan konsep budget travelling, oleh-oleh ini jadi prioritas ke sekian. Bagaimana mungkin membawa oleh-oleh untuk semua kenalan dan/atau orang yang  mengetahui kepergiannya (which is bisa lebih dari 20 orang) kalau pelancong hanya berbekal satu buah ransel, uang saku terbatas, pesawat tanpa bagasi. Ditambah dengan yang namanya budget traveling artinya adalah menekan pengeluaran seminim mungkin. Sementara yang namanya oleh-oleh untuk sekampung mungkin bisa menghabiskan setengah dari biaya selama melancong, even just small item souvenirs (cie.. pengalaman. Haha)

Kalau si pelancong pergi dalam waktu yang sempit dan “kejar tayang”, mencari barang titipan ataupun berbelanja oleh-oleh merupakan kegiatan yang memakan waktu. Mungkin saja lokasi penjualan oleh-oleh tidak mudah dijangkau dari lokasi yang direncanakan. Kalau barang titipan, belum tentu juga ketemu di satu tempat yang didatangi. Butuh effort lebih untuk mencari barang yang dimaksud, dari toko ke toko yang tentunya membutuhkan banyak waktu. Ehem.

Entah kenapa setiap pulang melancong koper menjadi lebih berat dibandingkan saat berangkat walaupun dengan jumlah barang yang sama (tanpa oleh-oleh). Kadang ini juga jadi satu pertimbangan untuk tidak membawa oleh-oleh atau hanya sedikit oleh-oleh di dalam bagasi ketika pulang. Jangan sampai membayar biaya bagasi tambahan yang harganya lebih besar daripada nilai oleh-oleh dalam koper. Ekonomis cyiin

Pelancong juga manusia, sama-sama punya tangan dua. Kadang sudah kerepotan dengan jumlah koper-koper yang dibawanya (apalagi kalau ditambah gendong anak). Menambah beberapa kardus berisi oleh-oleh bisa sangat merepotkan. Mungkin saja kardusnya tertinggal karena lupa tidak terbawa.

Sekilas gambaran kondisi yang mungkin dialami oleh para pelancong. Kita bepergian dengan style yang berbeda. Menurut saya pribadi, alangkah lebih bijak jika tidak asal mengucapkan “Jangan lupa oleh-oleh ya!” ketika seseorang yang kita kenal akan melancong. Juga akan mengurangi perasaan bersalah jika ketika pulang tidak ditagih, “mana oleh-olehnya?”. Akan lebih baik jika kita memberikan kata-kata yang positif, misalnya “Have fun ya!” atau “Hati-hati di jalan!” atau “Udah sana liburan aja, kerjaan kamu saya handle sementara” dan ungkapan positif lainnya.

Jadi, bukan karena teman kita itu pelit, tidak mementingkan pertemanan, dan sebagainya. Tapi tapi tapi begitulah. Hanya mereka yang tau kondisinya. Jadi, maaf ya teman-teman kalau misalnya ga kebagian oleh-oleh.. :D

Saturday, July 30, 2016

Bandung, Dulu dan Sekarang

Lebaran lalu, yang mana sudah terlewat 3 minggu lamanya, adalah official mudik pertama Emil. Sebelumnya kami menghabiskan Lebaran di Balikpapan dan jalan-jalan ke Samarinda karena Beni tidak dapat cuti. Tahun ini akhirnya bisa cuti dan ikutan arus mudik walaupun baru berangkat H+1 menuju Bandung.

Malam hari setelah kami landing di kota kelahiran Emil, kami memutuskan untuk sedikit berkeliling di pusat kota. Sejak Kang Emil memegang amanah Walikota Bandung, rasanya begitu banyak perubahan yang terjadi dibandingkan terakhir kali kami meninggalkan Bandung. Tujuan pertama kami adalah pertokoan di Jalan Riau sekalian membeli beberapa barang yang dititip Neneknya Emil. Begitu masuk ke perempatan Jalan Merdeka di malam hari, Emil (dan mama papanya) terpana karena meriah banget suasananya. Lampu-lampu gedung, terangnya billboard berupa tv raksasa, dan ramainya lalu lalang kendaraan sudah lama hilang dari pandangan kami yang terbiasa dengan jalanan sepi lengang remang-remangnya Balikpapan.

Ketika kembali menuju rumah, kami juga menyusuri kawasan Jalan Asia Afrika, salah satu kawasan heritage di Bandung. Disini berdiri Gedung Merdeka, tempat diselenggarakannya konferensi Asia Afrika yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Oh iya, kilometer 0 nya Bandung juga terletak di kawasan ini, sebelah Hotel Panghegar tepatnya. Waktu jaman kuliah dulu saya dan Beni sering melewati jalan ini untuk pulang ke rumah masing-masing. Satu perempatan sebelum Jalan Asia Afrika biasanya kami berpisah karena harus naik angkot yang berbeda. Seingat saya, dulu disini sepi remang-remang. Kalau sudah di atas jam 9 malah agak takut juga karena sering ketemu orang mabuk di trotoir ataupun di angkot yang akan dinaiki. Jarang sekali orang lalu lalang. Tapi kalau di sebrang hotel Savoy Homman lumayan ramai dengan pedagang kaki lima. Saya dan Beni juga suka jajan disini, nasi goreng sebrang hotel Savoy Homman adalah favorit kami. Sekarang jalan Asia Afrika sudah jauh berbeda, pedagang kaki lima tidak lagi berjejer di pinggir jalan karena sudah direlokasi ke tempat lain. Sudah tidak ada lagi deh jalanan sepi, trotoir lengang di malam hari. Kami saja terjebak padatnya jalanan dan melihat kreamaian di kanan kiri jalan. Kawasan ini sudah jadi tempat untuk nongkrong dan ber-selfie ria. Orang-orang yang mencari recehan dengan memakai kostum unik seperti robot menambah kemeriahan suasana. Kalau kesini sepertinya wajib foto di depan tulisan kekiniannya kota Bandung,

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi” –Pidi Baiq

yang tidak sempat saya foto karena sedang gendong Emil yang bobo sementara Beni menyetir.
Salah satu sudut Taman Balai Kota
Terima kasih Kang Emil, taman-taman di Bandung jadi lebih terawat dan menyenangkan untuk bermain dengan anak. Saya dan Beni sebenarnya senang jalan-jalan ke taman sejak jaman pacaran dulu, tapi hanya sekedar jalan kaki dan lewat saja karena tamannya tidak terurus, tidak enak untuk duduk-duduk ngobrol. Taman Balai Kota adalah satu-satunya yang pernah kami masuki untuk duduk dan mengobrol, itupun hanya sekali. Kemarin kami kembali ke taman Balai Kota Bandung, karena ketika melewati jalan Merdeka sudah hampir masuk waktu sholat Jumat. Beni pun sholat di masjid sebrang Balai Kota sementara saya, Emil, dan neneknya Emil menunggu di taman. Kondisi taman saat ini indah sekali. Kolam patung badak yang dulu kusam banyak sampah sekarang bersih dan punya air mancur. Tentu Emil senang sekali lihat air sampai mau nyebur ke kolam. Di taman ini ada tempat untuk menyematkan Gembok Cinta, seperti di Pont de Arts Paris atau Namsan Tower Seoul. Ada juga open air gym seperti yang pernah kami temukan di Lumphini Park Bangkok (meski beberapa alat kondisinya sudah agak rusak).    
Suasana bermain air di Sungai
Taman Balai Kota terletak di samping sungai Cikapayang. Dulu sungai ini warnanya coklat banyak sampah dan agak berbau. Saya dan Beni memang sering lewat jalan ini entah pulang kuliah atau ketika jalan-jalan di akhir pekan. Kok tahu kotor dan bau? Ya karena kami kalau pulang kuliah kadang jalan kaki sampai tempat berpisah, kalau di kampus lagi tidak bisa bareng waktu ngobrolnya dialihkan sambil jalan kaki. Hehehe. Katanya sih setelah Kang Emil perjalanan ke Seoul, terinspirasi sama sungai Cheonggyecheon, sungai buatan yang bisa dipakai main air (baca di artikel mana gitu, saya lupa). Nah, sekarang Kang Emil sudah merealisasikan sungai Cikapayang yang bisa dipakai main air dan airnya bersih. Trotoir di samping sungai desainnya meliuk mirip sungai Cheonggyechon yang saya lihat gambarnya di internet dan KDrama, saya belum pernah ke Seoul soalnya. Ketika kesini banyak juga keluarga yang piknik kecil-kecilan di pinggir sungai, anak-anak main air dan keluarga lainnya botram dengan makanan yang mereka bawa atau jajan cuanki. Emil si pecinta air langsung tidak bisa dikendalikan waktu lihat air dan anak-anak yang main air. Otomatis buka sepatu dan minta masuk. Neneknya ga tega akhirnya Emil dibukain celana dan ditemenin masuk ke air. Senangnya bukan main. Hanya di Bandung, orang kota juga bisa main di sungai. Saya bahagia lihat Emil luar biasa ceria, sambil makan tahu gejrot di pinggir sungai. Hehehe.
Seporsi Tahu Gejrot
“Bandung sekarang macet banget” begitu kata beberapa teman yang masih berdomisili di Bandung. Jujur saja sejak merantau, kata-kata inilah yang bikin saya dan Beni malas keluar rumah kalau pulang ke Bandung. Kalau akhir pekan sudah pasti macet dari dulu, ditambah sekarang banyak banget wisatawan yang berlibur ke Bandung jadi tidak terbayang macetnya seperti apa. Tapi sebetulnya setelah kami memaksakan mencoba keluar rumah, jalanan rasanya wajar-wajar saja. Memang ada beberapa jalan yang agak padat tapi masih bisa jalan pelan. Mungkin di dalam kota tidak terlalu terasa macetnya, kalau ke Lembang sih jangan ditanya ya, jaman saya SD aja udah macet kalau pulang apalagi sekarang. Hipotesis saya dan Beni, sekarang di Bandung tempat wisata dan restoran sudah tersebar di seluruh sudut bandung jadi macetnya juga menyebar. Beberapa tahun lalu wisatawan hanya terpusat di Jalan Riau, Merdeka, Dago, dan sekitarnya. Malah menurut kami, sekarang lebih lengang dibandingkan saat lulus kuliah dulu (baru 5 tahun lalu kok. Oops!)

Bandung adalah comfort zone saya sejak dulu. Bagaimana tidak, dari lahir hingga kuliah saya tidak pernah meninggalkan bandung (selain untuk berlibur). Tidak ada kota senyaman kota Bandung. Sekarang, saya makin nyaman dengan Bandung. Perubahan-perubahan yang terjadi di kota kelahiran saya dan Emil sangat positif sepanjang yang saya rasakan. Di Bandung, saya lihat Emil sangat bahagia, jiwanya bebas. Ini adalah kebahagian ultimate buat seorang Ibu. Ternyata lihat anak senang aja bahagianya bukan main. Walaupun begitu, kami harus move on, kami punya kehidupan di kota lain dan tugas kami menciptakan lingkungan yang senyaman mungkin untuk tumbuh kembang Emil meski sarananya tidak selengkap Bandung. Saya ingin melihat Emil selalu bahagia seperti ketika di Bandung.


Aaah… Bandung memang loveable, ngangenin deh..

Thursday, June 2, 2016

Wisata Malam : Batu Night Spectacular (BNS)


Pada dasarnya kota Batu di malam hari itu indah. Banyak lampu, lampion, ditambah udara yang adem jadi bikin suasana dramatis (cie.. hahaha). Menurut review blog perjalanan lainnya, kalau malam bagusnya ke alun-alun atau Batu Night Spectacular. Kami sempat melewati Alun-Alun Batu sepulang dari makan malam, memang bagus kelihatannya. Lampion dan lampu-lampu berwarna warni ditambah bianglala memeriahkan suasana. Cocok lah untuk selfie tempat nongkrong muda mudi.

Malam terakhir kami di kota Batu kami sempatkan untuk mengunjungi Batu Night Spectacular (BNS), tempat berkumpulnya seluruh wisatawan di malam hari. Di parkiran berjejer bus-bus pariwisata dan mobil-mobil. Pokoknya tempat ini selalu ramai.
Di BNS terdapat berbagai macam arena permainan, bisa dibilang mirip Dufan mini yang beroperasi di malam hari. Arena-arena permainan yang ada di BNS saya kategorikan tidak baby friendly karena banyak yang cukup menantang adrenalin seperti ontang-anting, piringan berputar yang melawan gravitasi, rumah hantu, go-kart, dan lainnya. Satu-satunya yang lumayan bisa dinaiki yaitu komedi putar tapi kami tidak ajak Emil naik permainan apapun malam itu.
Salah satu permainan di BNS
Harga tiket masuk BNS yang kami bayarkan sebesar Rp 30.000 per orang dan anak dengan tinggi di bawah 85 cm gratis. Kalau membeli tiket biasa seperti kami, untuk naik arena permainan harus membayar lagi sesuai harga yang ditetapkan di tiap-tiap arena. Jika memang ingin bermain di BNS, lebih baik membeli tiket terusan sebesar Rp 100.000 per orang.
Foto seadanya bareng bayi bobok
Saya, Beni, dan Emil akhirnya memilih untuk berkeliling taman lampion yang terletak di dalam BNS. Taman lampion merupakan salah satu ikon yang sangat merepresentasikan BNS. Untuk masuk ke taman lampion, kami harus membayar biaya tambahan sebesar Rp 15.000 per orang. Seperti layaknya taman lampion yang ada dimana-mana, aktivitas yang bisa dilakukan hanya berfoto. Sementara kami tidak leluasa melakukan kegiatan per-fotoan karena Emil sangat cranky disitu akibat mau poop dan mengantuk. Jadi kami sibuk menenangkan Emil dengan menemani lihat air mancur. Bayi kami ini memang suka sekali dengan air, dia tidak peduli dengan lampu warna-warni. Akhirnya kami baru bisa foto-foto setelah Emil tidur. Maaf ya nak, fotomu jadi pose tidur semua. LOL

Thursday, May 5, 2016

D'Topeng Kingdom (Museum Angkut, Kota Batu)

Emil sudah tidur dan kami tidak berniat untuk menjelajah lebih detai lagi di museum angkut. Untuk foto-foto saja kami malas karena semua orang ingin berfoto jadi harus antri. Buat kami, berfoto ala intagram-ers tidak penting dan hanya menghabiskan waktu karena ga jago foto. Hehe. Lalu kami memutuskan untuk pergi ke museum satunya yang masih berada di area museum angkut, yaitu D’Topeng Kingdom karena kami penasaran katanya ini tentang warisan nusantara. Kalau tampilannya dibandingkan dengan museum angkut, D’Topeng Kingdom ini kebanting. Pintu masuknya saja nyempil di dalam pertokoan, desainnya tidak instagramable, di dalamnya ada atap yang bocor. Begitu sampai tadinya kami tidak berharap banyak, tapi ternyata kami salah.

Batik
Batik tiga negeri
Banyak kain batik dipajang di dinding dan di dalam lemari kaca. Hmm, oke, ini menunjukkan kalau batik itu adalah Indonesian heritage. Ya sudahlah ya, kan sering juga lihat batik. Saya pun berniat melengos sampai tiba-tiba ada mas-mas yang mengoceh, “batik ini dibuat pada jaman Belanda, batik biru untuk orang Belanda, merah untuk orang Cina, coklat untuk pribumi”. Wah ternyata mas ini adalah story teller yang bekerja untuk museum D’Topeng Kingdom. Berkat mas ini, kami jadi tahu bahwa pada jaman dulu batik tidak berwarna warni dan orang pribumi hanya boleh menggunakan batik berwarna coklat. Adapun sentra pembuatan batik yaitu di Solo dan Pekalongan, maka tidak heran kalau sampai sekarang kedua tempat tersebut terkenal dengan batiknya. Pada jaman dulu, kain itu harganya mahal tapi orang kita juga tidak mau pakai kain yang motifnya itu-itu saja. Dari situlah muncul batik pagi-sore, yaitu satu kain batik dengan dua motif coklat gelap dan coklat terang. Kalau pagi, warna yang gelap dililit menghadap depan, kalau sore warna yang terang dililit menghadap depan supaya disangka ganti kain. Hehe, kreatif ya.
Batik yang paling menarik buat saya adalah batik tiga negeri. Disebut demikian karena terdapat tiga warna dalam satu kain yang mewakili bangsa Belanda (biru), Cina (merah), dan Indonesia (coklat). Pembuatannya pun dilakukan di tiga kota, karena setiap kota hanya boleh membuat satu warna batik. Warna biru dibuat di Cirebon, warna merah dibuat di Lasem, dan warna coklat dibuat di Pekalongan. Motifnya juga cantik. Di penghujung koleksi batik, mas story teller ini berhenti dan kami melanjutkan perjalanan sendiri bersama dua pasangan yang ada di depan kami.

Patung
Patung Loro Blonyo (dan bayangan saya. hehe)
Saat kami melihat-lihat koleksi periuk, uang, dan patung, muncul story teller lain yang bernama Pak Supaat. “Pada jaman dahulu, jika orang menikah maka akan dibuatkan patung yang dipahat persis menyerupai pengantinnya, namanya Loro Blonyo. Loro artinya dua dan blonya artinya pengantin” dengan fasih Pak Supaat menjelaskan sepasang patung dalam baju pengantin jawa yang ada di hadapan kami. Patung ini ibaratnya seperti foto pernikahan kalau di jaman sekarang, yak an dulu belum ada kamera jadi pakai patung. Hehe. Biasanya loro blonyo ini disimpan di kamar sebagai sugesti agar pernikahan langgeng dan harmonis. Ada juga patung kakek tua yang dipajang dekat situ, ternyata dahulu juga ada kebiasaan membuat patung menyerupai orang  yang baru saja meninggal untuk mengenangnya. Tradisi pembuatan patung bagi orang yang meninggal ini rupanya tidak hanya di pulau Jawa. Kalau teman-teman pernah dengar tentang Tanah Toraja, disana juga ada patung-patung orang yang meninggal dipajang di bukit persemayaman.

Di dalam museum ini juga banyak dipajang patung Asmat yang berasal dari Papua. Jujur, saya lupa patung Asmat ini melambangkan apa. Hehe. Mungkin bisa cari infonya di google. Tapi yang saya ingat, setiap patung yang pernah dibuat itu unik, tidak ada duanya di dunia. Desain patung benar-benar bergantung pada kreatifitas pemahat pada saat itu dan prosesnya dilakukan spontan tanpa digambar untuk ancer-ancer dan sebagainya. Entah kenapa patung Asmat ini seperti saudaraan dengan patung-patung di Easter Island.

Kepala Keris
Anak muda sekarang sih hobinya gonta ganti casing handphone, kalau jaman dahulu di tanah Jawa hobinya gonta ganti kepala keris soalnya belum ada handphone. Haha. Kepala keris itu melambangkan strata social, semakin tinggi stratanya maka ukiran kepala keris semakin heboh malah ada yang dipasang bebatuan sebagai aksesoris. Kepala keris paling unik disini adalah yang terbuat dari gading mammoth! Walaupun mammoth sudah punah, setidaknya saya bisa lihat gadingnya yang sudah diukir. Sayangnya saya lupa fotoin. Hihihi.

Topeng
Topeng Panji dan Dewi Sekartaji (dan bayangan Pak Supaat :D)
“Museum ini dinamakan D’Topeng karena paling banyak koleksi topengnya” begitu kata bapaknya. Topeng-topeng dipajang berderetan dalam lemari kaca. Tidak ada sejarah khusu tentang seluruh koleksi topeng ini karena fungsi utamanya ya untuk dipakai dalam tari topeng. Tapi dari sekian banyak topeng yang berasal dari berbagai daerah memiliki wajah berbeda yang ternyata juga punya nama masing-masing. Pada dasarnya tari topeng menceritakan kisah cinta sejoli yang tidak direstui keluarga karena adanya dendam antar keluarga. Cerita ini berasal dari kesusastraan Jawa sejak jaman Majapahit. Sebut saja Panji dan Dewi Sekartaji, dua muda mudi beda kerajaan yang memicu perang antar kerajaan demi mempertahankan cintanya. Meskipun pada akhirnya keduanya tidak bisa bersatu. Ada juga cerita Rama Sinta dan tokoh lainnya yang walaupun berbeda tapi inti ceritanya tetap sama. Tragis, tidak bisa bersatu. Nah, coba deh ingat-ingat cerita ini mirip dengan kisah Romeo dan Juliet yang ditulis William Shakespeare pada abad ke 16. Konon, menurut pemaparan Pak Supaat, Shakespeare terinspirasi dari keusastraan Jawa yang dibawa bangsa Portugis dari Indonesia. Kesusastraan Jawa ini sudah ada jauh sebelum abad ke-16.

Bertemu Pak Supaat di dalam museum membuat kami merasa seperti dibacakan cerita dongeng. Sampai tidak sadar kalau dua pasang depan kami sudah menghilang karena Pak Supaat lebih banyak cerita sama kami yang juga banyak tanya. Hehe. Saat sampai di pintu keluar, Emil bangun dan mulai rewel. Walaupun masih ada beberapa koleksi kain unik, seperti batik dari emas yang dijelaskan dengan terburu-buru karena Emil nangis. Tapi saya dan Beni merasa puas di museum ini, feels like being fed with knowledge. Wawasan dan jiwa kami serasa diisi dan membuat kami tambah cinta Indonesia. Suatu hari nanti kalau Emil sudah mengerti, akan kami sampaikan cerita-cerita seperti yang dilakukan Pak Supaat pada kami.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warisan budaya masa lalu. –Museum D’Topeng

Museum Angkut, kota Batu

“Nah, kita sudah masuk ke kota Batu mas, disini lebih dingin dari Malang” kata supir taksi yang mengantar kami begitu memasuki daerah pegunungan. Memang dari dalam mobil saja terasa lebih adem ditambah hujan rintik-rintik. Duh, sebenarnya sedih kalau hujan turun karena rencana kami ke Batu Spectacular Night bisa batal karena lokasinya outdoor. Akhirnya kami tanya ke Bapak supir apakah mungkin kalau kami mengunjungi Museum Angkut setelah ini. Menurut bapaknya, bisa karena sebagian area museum indoor jadi tidak perlu hujan-hujanan. “Semoga nanti sudah reda” lanjut Pak supir.

Sayangnya cuaca tidak berpihak pada kami, Batu diguyur hujan sampai malam nonstop. Ya sudah, jadwal jalan-jalan akhirnya kami reschedule. Setelah menyimpan koper dan istirahat sejenak di hotel, kami pun meluncur naik taksi ke Museum Angkut yang ternyata tidak sampai 5 menit perjalanan.

Koleksi pesawat Boeing 737-200 Museum Angkut
Sebelum masuk, jangan lupa membeli tiket seharga Rp 60.000,- atau seperti kami membeli tiket terusan Museum Angkut dan D’Topeng Kingdom seharga Rp 70.000,-. Anak-anak yang tingginya di bawah 85 cm gratis, untungnya Emil kemarin masih 80 cm tingginya. Hehehe. Selain orangnya, ternyata kamera yang kami bawa pun butuh tiket masuk seharga Rp 30.000,- per kamera. Museum ini memang memberlakukan peraturan bayar untuk segala jenis kamera kecuali kamera handphone, kalau tab katanya masih harus bayar juga.

Beberapa koleksi mobil di Museum Angkut
Kami terkesan dengan museum ini karena dikemas modern dan terawat, jauh dari kesan suram khas mayoritas museum di Indonesia. Museum angkut ini memiliki koleksi berbagai jenis moda transportasi mulai dari mobil, motor, andong, becak, pesawat, helicopter, replika kapal layar, dan lainnya. Setiap koleksi (mayoritas mobil dan motor) diberi keterangan mengenai jenis, kapasitas cc, dan tahun beroperasinya. Disamping kece untuk tempat berfoto, nilai edukasi tidak lupa ditonjolkan disini. Pada beberapa area, kita bisa melihat video mengenai cara kerja mesin baik kereta api maupun motor. Ada juga pengenalan jenis knalpot beserta bunyinya dan mini quiz mengenai mobil-mobil di dunia yang diakses melalui layar sentuh.
Becak, moda transportasi favorit Emil - Pesawat Boeing 737-200 yang sudah di refurbish
Kalau sudah sampai di lantai paling atas, kita bisa menemukan pesawat tipe Boeing 737-200 yang dalamnya sudah di refurbish dengan hanya berisikan beberapa seat saja lengkap dengan layar yang memutar video pendek mengenai pesawat. Area cockpit ditempatkan flight simulator yang bisa digunakan pengunjung dengan membayar biaya Rp 300.000,- diluar HTM. Ketika masuk ke dalam pesawat, kita akan disambut seorang ”pramugara” yang akan melafalkan kalimat “terima kasih sudah terbang bersama kami, mohon maaf pesawat ini tidak akan pernah sampai pada tujuan” hahaha. Selama di museum angkut, kami jadi tahu alat transportasi favorit Emil, yaitu becak dan pesawat. Begitu lihat becak, Emil inisiatif naik dan duduk sendiri disitu, begitu juga ketika naik pesawat sampai nangis-nangis saat diajak turun.
Cafe tema pesawat - menu flying fish (sebenarnya fish and chips)
Hujan yang turun pada waktu itu membuat udara jadi tambah dingin. Entah kenapa ketika baru sampai lantai paling atas hujannya malah bertambah deras. Kami berlari kecil sambil dorong stroller masuk ke café untuk berteduh dan ngemil-ngemil. Café ini dibuat dengan tema pesawat karena letaknya bersebelahan dengan pesawat Boeing, mungkin supaya matching. Hehe. Sambil makan, bisa sambil baca-baca informasi mengenai sejarah pesawat yang jadi wallpaper disini.

Awalnya saya mengira dengan selesainya kami menjelajah lantai paling dasar hingga paling atas (3 lantai) kunjungan kami sudah selesai. Ternyata area museum angkut masih luas, saudara-saudara. Hanya saja untuk pindah ke gedung lain kami harus menembus hujan. Padahal kalau tidak hujan, area ourdoor ini menarik sekali karena dibuat menyerupai Chinatown, jalanan Hollywood, taman bertemakan Inggris, dan lainnya yang saya tidak ingat lagi. Hehe. Tapi koleksi moda transportasinya sih hanya mobil-mobil dan motor-motor antik. Oh iya, ada juga roda kendaraan mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar. Saya jadi tahu besarnya roda truk di area pertambangan yang pernah saya lihat di tv. 

Sisanya dari museum angkut ini adalah satu gedung yang tiap ruangannya di desain seperti kota-kota indah di dunia. Seingat saya, ada ruangan dengan desain kota Paris, Roma, London, New York (?), dan Berlin. Saya kurang ngeh sama karena tidak bisa santai menjelajah disini, Emil cranky karena ngantuk. Tapi intinya, ini adalah area yang seperti di desain untuk foto-foto mengingat banyaknya pojok berfoto yang disediakan. Oh iya, disini juga ada café kecil dan toko souvenir. Akibat hujan yang tidak kunjung reda akhirnya kami beli payung juga di toko souvenir.


Tidak heran kalau museum angkut saat ini nge-hip sekali apalagi di kalangan anak muda karena hampir semua sudutnya instagramable. Malah kami kadang jengah dicibir atau diberi tatapan sinis karena lewat saat muda mudi sedang sesi foto bak model iklan. Beberapa ada yang kelewatan juga sih masa harus banget ga keliatan orang sehingga membiarkan orang-orang menunggu mereka selesai berfoto  baru bisa lewat. Ya memang selfie dengan latar belakang kece sedang nge-hip saat ini di kalangan anak muda. Kalau saya dan Beni bukan tipe yang harus berfoto bagus dan niat, buat kami yang penting dalam perjalanan itu adalah feel dan moment nya. Tapi mungkin kami juga harus belajar ambil foto yang bagus ya supaya feel dan moment nya bisa dilihat kapan saja. Yaa.. next time lah. Hehe

Monday, April 18, 2016

Satu Malam di Kota Malang

Ponsel saya bergetar beberapa kali sesaat setelah saya tiba di gedung kedatangan Bandar Udara Juanda Surabaya. Rupanya driver dari mobil travel yang kami pesan sudah menunggu untuk mengantar kami ke tujuan selanjutnya, Malang. Walaupun tujuan liburan utama kami ke kota Batu, kami tetap menyisipkan kota Malang sebagai tempat transit. Secara waktu tempuh, kota Batu memakan waktu lebih lama dan harus ditempuh jalan darat bisa-bisa Emil ngamuk kalau langsung bablas Surabaya-Batu. Jadi kami pikir lebih baik transit semalam di kota Malang.

“Kalau di Malang bagusnya kulineran aja, Rin. Jalan-jalannya di Batu ntar”, begitu teman saya yang asli Malang memberikan arahan beberapa hari sebelum keberangkatan kami. Nah, kebetulan kan pas banget transit di Malang jadi bisa icip-icip makanan khas disini, apalagi kalau bukan Bakso Malang. Fufufufu. Maklum, saya dan Beni doyan makan, tepatnya jajan, dan merasa wajib mencicipi yang enak-enak di kota tujuan. Ga heran kan kenapa kami montok. Hehe

Kami tiba di Hotel Amaris daerah Blimbing pukul 12.00. Beruntung kamar kami sudah siap dan bisa check in lebih awal. Hotel ini adalah tipe budget hotel, hanya Rp 300.000an semalam, cocok buat transit. Alasan utama saya memilih hotel ini adalah karena dekat dengan warung bakso legendaris di Malang, cuma 3 menit jalan kaki. Hemat ongkos taksi deh jadinya.

Bakso Presiden
Setelah simpan koper, sholat, dan nyuapin Emil makan bekal, kami langsung cari jalan menuju Bakso Presiden karena kami sudah kelaparan. Warung bakso malang ini katanya legendaris sampai sering dikunjungi artis dan pejabat. Menurut GMaps, letaknya di belakang Hotel Savana yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Tadinya ingin menginap di situ supaya kalau mau makan bakso tinggal ngesot sedetik, tapi room rate nya beda 2,5x lipat. Jadi gapapa lah jalan kaki 3 menit. Hehehe. Kalau sudah lihat Hotel Savana, carilah gang kecil di sebelah gerbang masuk hotel. Memang ini jalannya kecil dan tidak kelihatan ada tulisan Bakso Presiden dari jalan raya, melainkan hanya terlihat warung-warung kecil berjejer sepanjang gang. Tapi gang ini pendek, di ujung gang baru deh terlihat papan namanya.

Lokasinya yang persis di sebelah rel kereta, litteraly cuma sekitar 1 meter dari rel, adalah salah satu daya tariknya. Seru juga di tengah-tengah makan bisa menyaksikan kereta lewat jadi kursinya agak goyang-goyang. Hahaha. Emil yang belum pernah lihat kereta secara langsung takjub sambil mau nangis karena kaget dengan suara klakson kereta “hoooooonk”. Bagi yang membawa bayi atau anak-anak seperti kami, sebaiknya waspada karena lokasinya yang kurang aman. Takut juga kalau tiba-tiba anak kita lari-lari ke rel kereta. Untungnya kami membawa stroller jadi Emil diamankan supaya tidak berlarian.
Di sini kami memesan bakso saja (Rp 10.000), bakso komplit (Rp 16.000), super komplit (Rp 22.000), dan bakso bakar (Rp 12.000). Ternyata memang benar bahwa tempat ini recommended, semuanya nikmat. Jujur, ini bakso malang terenak yang pernah saya makan. Kuahnya menyegarkan, baksonya kenyalnya pas. Sayangnya bakso yang kami pesankan untuk Emil tidak disentuh sama sekali, emaknya lagi deh yang makan. Hehehe. Sudah kenyang, kami balik lagi ke hotel karena Emil mau bobo siang dulu.

Toko OEN
“Mau kemana mbak?”
“Toko OEN, pak.” (saya lafalkan O-EN ke supir taksinya.)
“Dimana ya mbak?”
“Lho ga tau pak, saya cuma tau itu tempat makan es krim”
“Ooooh, toko Oen. Dibacanya un, mbak”
Oalah ternyata itu ejaan lama. Hihihi. Begitu sampai memang tempatnya masih mempertahankan kesan jaman dulu. Tulisan-tulisan yang dipajang masih menggunakan ejaan lama dan bahasa Belanda, kursi-kursi kayu dan rotan kuno memperkuat kesan “jadul”. Ditambah etalase tua di dalam toko yang memajang kue-kue dan snack yang sering saya lihat waktu saya masih kecil (Duh, jadi berasa tua). Katanya yang wajib dicoba disini adalah es krimnya. Meskipun ada juga menu lain, tapi tidak direkomendasikan oleh teman saya. Banyak yang tidak halal, begitu katanya. Jadi kami pesan dua jenis es krim dan satu lumpia goreng isi sayur untuk cemilan sore Emil yang tidak bisa ikut makan es krim karena dia alergi susu. Harga es krim disini dibandrol Rp 39.000 – Rp 60.000an seporsi, dan camilan hangat seperti lumpia goreng dihargai Rp 15.000 satunya.

Alun-Alun Kota Malang
 Letaknya tidak jauh dari Toko OEN, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Sebelum menyebrang ke alun-alun, tepat di lampu merah kami menemukan Monument Sejarah Perjuangan KNIP dan menyempatkan foto-foto sedikit disitu. Alun-alun kota Malang bersih dan nyaman. Banyak bangku untuk duduk-duduk menikmati taman, lampu-lampu led hias, ada juga photobooth bagi jiwa-jiwa narsis, dan air mancur yang dinyalakan pada jam-jam tertentu. Di sekitar alun-alun terdapat rumah ibadah seperti masjid dan gereja. Dekat, tinggal menyebrang saja kalau sudah masuk waktu ibadah. Sayangnya kami tidak menghabiskan banyak waktu disini karena sudah lapar. Hehehe.


Nasi Pecel Kawi
Pecel Kawi adalah salah satu kuliner yang konon patut dicoba jika berkunjung ke Malang (info di dapat dari hasil googling). Berdasarkan informasi GMaps, jarak alun-alun ke lokasi warung pecel bisa ditempuh berjalan kaki selama 15 menit. Saya yang suka jalan kaki menganggap itu dekat karena saya dulu kuat jalan kaki 6km selama 2 jam. Kami berjalan malam hari sambil dorong stroller dengan medan yang kurang bersahabat. Trotoir kecil yang kami lewati kadang paving block nya rusak atau tiba-tiba ada pohon dan tiang muncul di tengah-tengah trotoir sehingga menghalangi jalan kami. Lelah juga gotong stroller berisi Emil yang sedang tidur naik turun trotoir. Effort jalan kaki jadi meningkat 2x lipat dan rasanya jalannya jauh banget. Saking capeknya kami hampir menyerah dan melipir ke Waroeng Steak and Shake yang terlewati. Hanya saja kami ingat lagi bahwa perjuangan ini semata-mata untuk makan nasi pecel yang enak. Ternyata aktualnya kami menghabiskan waktu 30 menit dan menempuh jarak 1,9 km sampai Beni ngomel mengeluh kelaparan.
Rumah makan pecel kawi ini berlokasi di jalan Kawi atas, dekat Idjen Boulevard. Kalau dari gambar di google sih penampakan dalamnya seperti warteg, ternyata aslinya tidak. 

Rumah makan ini seperti restoran pada umumnya tetapi tetap memiliki etalase “warteg” untuk menyimpan lauk pauk. Hal yang paling menyenangkan saat makan disini adalah enak dan murah. Serius deh, kata Beni nasi pecel paling enak se-Balikpapan aja lewat. Satu porsi nasi pecel dihargai Rp 10.000 saja sudah termasuk lauk tempe dua potong. Kalau mau menambah lauk lain seperti telur, bakwan jagung, ayam, dan lainnya hanya tambah bayar mulai dari Rp 2.000 – Rp 12.000. Habis olah raga malam lalu makan pecel, Alhamdulillah nikmatnya.

Mall of Gajayana (MOG)
Ini adalah mall yang kami lewati saat jalan kaki ke pecel kawi. Di belakang mall ini persis terdapat Stadion Gajayana, kandangnya sepak bola Malang, Arema. Sebenarnya ini tidak masuk daftar kunjungan kami di Malang. Cuma waktu di Bakso Presiden, botol minum Emil ketinggalan dan kami pesimis masih ada. Kasihan Emil jadi susah minum air putih karena dia baru bisa minum pakai sedotan botolnya. Jadilah kami mampir kesini sebelum kembali ke hotel untuk beli botol minum Emil. Dari rumah makan pecel kawi kami naik angkot jurusan MM dan membayar Rp 5000 keseluruhannya. Sebagai anak mall, Emil langsung ceria dan berteriak begitu kami masuk pintu mall. Sepertinya daritadi dia bingung diajak jalan-jalan naik stroller tapi kok bukan ke mall.

Sudah mendapatkan apa yang dicari, segera kami kembali ke hotel naik taksi dengan membayar minimum payment Rp 30.000. Sepanjang perjalanan kami melihat Kota Malang sangat nyaman. Banyak pohon, sejuk, dan bersih sehingga mengingatkan saya pada suasana Dago Atas di kota Bandung. Begitulah kisah kami satu malam di Kota Malang.




Wednesday, April 13, 2016

Mengenal Satwa di Jatim Park 2

Flamingos!
Jauh-jauh ke Batu tujuan kami salah satunya adalah membawa Emil ke kebun binatang. Walaupun masih tergolong bayi, tidak ada salahnya memberikan wawasan mengenai binatang secara langsung. Biasanya di rumah hanya bisa lihat binatang lewat lagu, kartun, atau gambar di buku. Jangan bayangkan kebun binatang yang bau dan becek, Batu Secret Zoo yang berada di Jatim Park 2 ini rapi, bersih, dan nyaman. Jauh dari kesan kumuh kebun binatang. Makanya membawa bayi pun ga masalah.

Secret Zoo mulai menerima pengunjung pukul 10 pagi. Dengan tiket Rp 75.000 kita bisa bebas menjelajah kebun binatang (termasuk berbagai permainan di dalamnya) dan mengunjungi Museum Satwa yang terletak di samping kebun binatang. Kami kemarin datang pukul 11 siang dan kami tidak merekomendasikan datang sebelum jam makan siang ke Secret Zoo. Masalahnya, pada awal-awal jam buka berbarengan dengan kedatangan rombongan bus wisatawan dari berbagai daerah. Gerbang masuk penuh sesak sehingga terjadi dorong-dorongan, serobot antrian oleh rombongan yang tidak bertanggung jawab. Emil sampai nangis teriak-teriak karena sesak di gerbang masuk. Saya semakin miris karena para rombongan ini tidak berempati pada anak kecil yang histeris, mereka tetap menyeruak serobot antrian baik anak sekolah maupun ibu-ibu. Di dalam bisa sedikit bernafas lega keluar dari himpitan antrian. Namun padatnya pengunjung membuat kami kurang nyaman lihat-lihat binatang. Kami sampai duduk dulu menunggu rombongan-rombongan ini berjalan ke area kebun binatang yang lebih dalam supaya agak longgar. Baru setelah jam 1 siang, rombongan hilang dari pandangan kami dan kami bisa mulai menjelajah dengan lebih santai. Pengalaman yang tidak mengenakkan.

Penampakan Museum Satwa
Sesampainya di Jatim Park 2, kami jadi ingat dengan National Historical Museum di Amerika yang sering kami lihat di film-film. Enggak, kami belum lihat yang aslinya di Amerika sono kok, hehe. Bangunan itu adalah Museum Satwa yang lokasinya bersebelahan dengan kebun binatang Batu Secret Zoo. Keduanya seperti terintegrasi untuk mengenalkan bermacam satwa kepada para pengunjung, cocok untuk anak-anak. 

Begitu masuk ke dalam museum kita akan disambut sebuah sangkar burung raksasa dan tiga fosil dinosaurus. Ini adalah spot foto ideal bagi jiwa-jiwa narsis. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang museum ini karena saya kurang bisa membaca informasinya sambil mengejar Emil yang lari-lari. Tapi garis besarnya sih mengenalkan berbagai spesies hewan melalui replika yang dipajang seisi museum.

Secret zoo memiliki luas sekitar 14 ha dan merupakan kebun binatang terbersih dan terunik yang pernah saya datangi. Kita bisa melihat secara langsung hewan asli dari benua Asia, Afrika, Australia, dan Amerika. Kalau pernah menyaksikan film animasi Madagascar, pasti tidak asing lagi dengan lemur yang menyanyikan lagu “I like to move it, move it. We like to move it!” yang akan menyambut kita beberapa saat setelah masuk gate. Ada juga Rafiki, keluarga kera yang berperan sebagai peramal di film The Lion King lengkap sampai hyena yang menjadi musuhnya. Hewan-hewan unik lainnya seperti Alpaca, Rakun, Harimau Bengali, sampai Flamingo pun dapat kita temui disini. Pokoknya seru deh melihat langsung dan mengagumi hewan-hewan yang tadinya hanya dilihat di televisi saja. Spot favorit saya di sini adalah di depan kolam flamingo. Cantik-cantik banget sih. Kakinya panjang, gerakannya anggun, dan warnanya indah. I love flamingos! Sayangnya Emil belum mengerti, setiap ditunjukin hewan dan diceritakan dia malah marah-marah minta jalan lagi. Maklum, baru bisa jalan. Hehe
Senyum bahagia si bayi
Informasi yang tersedia mengenai hewan sangat lengkap di Secret Zoo ini. Di setiap kandang hewan akan diberikan informasi mengenai hewan tersebut mulai dari nama dan nama latin, penyebarannya, habitat, makanannya, reproduksi, sampai status konservasi saat ini. Selain itu di beberapa tempat, kita bisa menemukan papan besar yang merupakan permainan buka tutup yang berisi berbagai pengetahuan tentang hewan, cocok untuk anak-anak. Namun sayang, seperti di kebanyakan tempat umum beberapa bagiannya ada yang rusak/hilang.

Labih jauh lagi di dalam Secret Zoo terdapat arena bermain semacam mini Dufan dan mini Waterboom yang semuanya sudah include di tiket masuk. Jadi tidak perlu membayar lagi untuk menaiki wahana-wahana yang ada. Tempat ini ramai sekali dan cukup penuh sesak oleh anak-anak beserta orang tuanya.

Menjelajah area seluas ini tentunya melelahkan apalagi buat bayi. Saran saya sebaiknya membawa stroller kalau anaknya capek jalan atau mau tidur. Seandainya anaknya masih mau jalan, stroller bisa dipakai menyimpan tas ransel perbekalan. Hehehe. Oh iya, kalau anaknya sudah besar dan bisa menjaga keseimbangan, bisa menyewa motor listrik sebesar Rp 100.000 untuk 3 jam. Banyak juga ibu-ibu yang pangku anaknya sambil naik motor listrik ini, kebanyakan anaknya sudah 3 tahun keatas.
Beni takut dipatok Katherine (nama burungnya). :D
Sebagai kenang-kenangan, terdapat beberapa spot berfoto bersama hewan seperti binturong, burung, dan singa. Untuk sekali foto menggunakan kamera pribadi dikenakan biaya Rp 5000 dan untuk mencetak foto yang diambil oleh fotografer dari Secret Zoo dikenakan biaya Rp 50.000,-, lumayan sih padahal dulu waktu saya pertama kali kesini tahun 2012 foto-foto dengan hewan tidak dipatok harga. Untungnya harga yang dipatok tidak terlalu mahal.

Overall, berkunjung ke Batu Secret Zoo memuaskan. Take your time! Tidak perlu terburu-buru karena banyak informasi yang tersedia untuk menambah wawasan kita.


 

Blogger news

About